Semua ini diawali kabar duka yang saya terima pada pagi hari kemarin, 15 September 2010. Teman SMA saya meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. namanya Ressa Kumbara, lebih dikenal dengan nama ‘cabe’, dulu saya sekelas dengannya waktu kelas 1 SMA.
Setiap kabar kematian selalu membuat saya sadar betapa sempit waktu kita di dunia, tetapi kabar kematian seseorang yang seumur kita bahkan lebih membuat saya tersadar lebih ‘dalam’,’ dalam’ di sini dalam arti shock dan teringat bahwa ‘hey dia seumur saya, dan kematian bisa datang kapan saja pada saya’.
Kabar ini cukup membuat saya -seperti tadi saya bilang- shock, digabungkan dengan berita-berita di TV yang menginformasikan bahwa jumlah korban jiwa di masa mudik dan arus balik tahun ini lebih tinggi daripada tahun lalu, ditambah fakta bahwa pagi ini saya akan ikut dalam arus balik tersebut. Mungkin karena jumlah momennya yang tepat, hal – hal tersebut cukup membuat pikiran saya tidak menentu, memikirkan banyak hal yang belum bisa saya perbuat, banyak hal yang belum bisa saya lakukan untuk orang yang saya cintai (dan kemungkinan bahwa dia mungkin tidak akan sempat tahu bahwa saya begitu mencintainya(tapi tak mengapa karena yang penting dia bahagia)), dan banyak hal yang saya ingin lakukan sebelum saya meninggalkan dunia ini.
Apakah hal-hal ini yang disebut penyakit ‘cinta dunia’? karena bagi sebagian orang, justru (setahu saya) mereka ‘mencari’ kematian, di medan perang melawan kaum kafir misalnya. Bagaimana menurut anda?