kita sering sekali merasa mengerti…
tetapi kita jarang sekali mengerti bagaimana untuk merasa…
kita sering sekali merasa mengerti…
tetapi kita jarang sekali mengerti bagaimana untuk merasa…
Sore ini, jam 3 adalah hari terakhir saya kuliah (secara akademik), meskipun, masih ada tugas, presentasi, dan ujian2 yang harus dilaksanakan (o iya, TA juga harus dikerjain tuh…). Mata Kuliah yang terakhir saya hadiri adalah Neotektonik (dari prodi Teknik Geologi), dengan dosen Pak Benyamin Sapiie (aka Pak Mino). Hmmm, dipikir-pikir.. 4 tahun itu singkat ya?? kalo kata traveler sejati mah “20 tahun lagi, kamu akan jauh lebih menyesal atas hal yang belum pernah kamu lakukan daripada yang sudah kamu lakukan..” (aslinya bahasa inggris kata-kata itu, tapi kemampuan tidak cukup untuk menuliskannya dalam Bahasa Mr. Bean itu…).
Banyak hal yang sebenarnya ingin saya lakukan di kampus ini, tapi karena satu dan lain hal (bahasa pejabat gini…) hal-hal itu tidak sempat dan tidak bisa saya lakukan.. sebagian ada yang saya sesali, sebagian ada yang saya syukuri, sebagian masih ada yang diperjuangkan… kita hidup bukan di hari kemarin atau hari esok, tapi kita hidup di hari ini, jadi harusnya kita lakukan yang terbaik dan berdoa untuk yang terbaik di hari ini… supaya di hari esok kita mendapati diri kita lebih baik daripada hari ini dan tidak menyesal atas apa yang kita lakukan atau tidak lakukan di hari ini…(Nasehat untuk diri sendiri ^_^, pabeulit kieu bahasana…)
Perbincangan ini terjadi tadi pagi, di ruang TV di kostan, yang berbincang adalah saya, mahasiswa tingkat 4, dan ibay (temen se-kostan, mahasiswa tingkat 2), berikut isi pembicaraan kami:
Ibay: “…jadi win, sebenernya kalo pasangan yang cocok itu bukan yang punya hobi sama, atau segala persamaan yang laennya (kecuali jenis kelamin, itu mah harus beda, red.)…”
Saya: (manggut-manggut)
Ibay: “Coba liat puzzle, potongan puzzle yang bisa cocok dengan potongan yang laen tuh bukan yang bentuknya sama, tapi malah yang bentuknya beda, jadi bisa klop…”
Saya: “Iya juga ya bay…..” (sambil terus melamun, merenung, dan bingung…)
-ada yang punya potongan puzzle…??-
Bagai punduk merindukan bulan…
Bagai menegakkan benang basah…
Bagai memakan kepala sendiri…
Semua artinya sama….
Mustahil….
jadi, hi and bye!!
Hasil renungan 2008.05.07