Archive for March, 2008

25
Mar
08

“Durian Runtuh”

       drt01.jpg

Kalau ada orang mengatakan, “wah, orang itu dapat ‘durian runtuh’ “, pasti otak kita langsung mengasosiasikannya dengan sesuatu yang berhubungan dengan rejeki atau peruntungan. Tapi, kembali ke masa di waktu Saya masih kelas 3 SD -ketika sedang mengerjakan PR Bahasa Indonesia- pertama kali Saya membaca ungkapan ‘durian runtuh’ pikiran Saya membayangkannya sebagai berikut:

ada orang sedang berjalan di kebun durian, tiba-tiba ada durian runtuh mengenai kepalanya. 

Dari pikiran Saya tersebut, Saya langsung menjawab soal no.4 PR Saya itu (yang menanyakan arti ‘Durian runtuh’) dengan: Orang yang mendapat kesialan. Tentu saja jawaban itu tidak sempat dibaca oleh Guru Saya, karena waktu itu jawaban Saya diperiksa terlebih dulu oleh Ibu Saya, Saya bingung dengan jawaban Ibu yang justru mengartikan ‘Durian runtuh’ sebagai orang yang mendapat keuntungan. Saya sempat mengungkapkan argumen Saya sebagai anak-anak dengan cerita orang yang sedang berjalan di kebun durian… tetapi akhirnya Saya mengalah dengan rasa heran (pada waktu itu).

Bicara tentang ‘Durian runtuh’, beberapa waktu yang lalu Saya pun mendapat ‘Durian runtuh’, hmmm… atau ‘Durian runtuh’ ya??

18
Mar
08

Hidup Apatis tapi Realistis

        Belakangan, seseorang yang Saya kenal dekat menjalani kehidupan yang apatis & monoton, tetapi dia tetap realistis (opooo?!). Apa yang dia lakukan itu menurutnya akibat berbagai akumulasi kejadian yang menimpa dirinya dalam kehidupan (teman saya ini mentalnya memang lemah!!). Karena itu, seminggu belakangan ini dia merefleksikan ‘penderitaannya itu’ dalam kehidupan yang apatis dan monoton. Berikut ini adalah contoh kehidupan yang dia jalani (contoh kasus: Kamis,13 Maret 2008): bangun tidur-solat subuh (jam 7 pagi!!)-berangkat ke kampus-mengerjakan TA (padahal nge-rileks terus!!)-nonton ke XXI(bukan sama kekasihnya, karena dia single (bilang aja jomblo karatan!!)) -pulang ke kosan-makan-nonton film2 dari hardisknya-tidur.
       Begitulah daur kehidupan teman saya itu belakangan ini (tulisan yang warna merah bersifat kondisional), selain itu dia sekarang menjadi bersikap apatis terhadap apa yang biasanya diaconcern terhadap hal itu (misalnya tentang apa yang dilakukan gadis yang dia kagumi) , dia sekarang lebih memilih untuk bersikap ‘bodo amat!!’. Tapi dari cara hidup yang dia pilih itu, kita bisa belajar sesuatu bahwa sikap ‘bodo amat’ yang dia pilih itu ternyata menjadikannya menjadi lebih fokus terhadap tugasnya -sebagai mahasiswa- yang merupakan suatu prioritas. Selain itu, dia sekarang tidak mudah -yang orang Sunda sering bilang-pundung bila gadis yang dia kagumi melakukan sesuatu yang membuat hatinya pilu -padahal dia tidak berhak untuk pilu karena dia tidak memiliki hubungan khusus dengan gadis tersebut, sang gadis pun tidak tahu bahwa teman Saya ini sangat mengaguminya- sehingga dia sekarang menjadi orang yang kebal (atau mati rasa??). Hinalah teman saya ini, kutuk,caci maki,hasutlah dia, dia tidak akan merasakan apapun, karena hatinya dalam mode hibernasi. Ya, tapi dari semua yang Saya uraikan tadi, bukankah teman Saya ini telah melakukan kehidupan yang realistis (mendahulukan prioritas kehidupannya), walaupun kehidupan yang realistis itu bukanlah kehidupan yang terbaik…
Sekian tulisan pertama Saya, akhir kata: HIDUP PERSIB!!
Wassalam…



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.