Kalau ada orang mengatakan, “wah, orang itu dapat ‘durian runtuh’ “, pasti otak kita langsung mengasosiasikannya dengan sesuatu yang berhubungan dengan rejeki atau peruntungan. Tapi, kembali ke masa di waktu Saya masih kelas 3 SD -ketika sedang mengerjakan PR Bahasa Indonesia- pertama kali Saya membaca ungkapan ‘durian runtuh’ pikiran Saya membayangkannya sebagai berikut:
ada orang sedang berjalan di kebun durian, tiba-tiba ada durian runtuh mengenai kepalanya.
Dari pikiran Saya tersebut, Saya langsung menjawab soal no.4 PR Saya itu (yang menanyakan arti ‘Durian runtuh’) dengan: Orang yang mendapat kesialan. Tentu saja jawaban itu tidak sempat dibaca oleh Guru Saya, karena waktu itu jawaban Saya diperiksa terlebih dulu oleh Ibu Saya, Saya bingung dengan jawaban Ibu yang justru mengartikan ‘Durian runtuh’ sebagai orang yang mendapat keuntungan. Saya sempat mengungkapkan argumen Saya sebagai anak-anak dengan cerita orang yang sedang berjalan di kebun durian… tetapi akhirnya Saya mengalah dengan rasa heran (pada waktu itu).
Bicara tentang ‘Durian runtuh’, beberapa waktu yang lalu Saya pun mendapat ‘Durian runtuh’, hmmm… atau ‘Durian runtuh’ ya??